Gue udah lima tahun jalanin hidup sebagai freelancer. Penghasilan naik turun kayak roller coaster, kadang sebulan bisa dua digit, bulan berikutnya cuma cukup buat bayar wifi dan kopi. Dan selama itu pula, gue sering denger nasihat soal atur uang yang... ya gimana ya, kedengerannya masuk akal tapi prakteknya bikin gue makin sering bokek.
Nah, kali ini gue mau bahas beberapa mitos populer soal ngatur pengeluaran yang khususnya ngerjain freelancer. Kalau kamu masih percaya salah satunya, siap-siap deh dompet kamu bakal nangis.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Mitos 1: "Penghasilan Nggak Tetap, Jadi Nggak Bisa Dianggarkan"
Ini mitos paling sering gue denger. Entah dari temen sesama freelancer atau dari om-om yang nanya "kapan kerja kantoran?" di acara keluarga. Katanya, karena penghasilan freelancer nggak tetap, ya nggak bisa bikin anggaran. Yang penting nabung kalau lagi rame, hemat kalau lagi sepi.
Baca juga: Sebulan Uang "Dikurung" Ala Orang Tua Baru, Ini yang Berubah
Masalahnya, pola pikir kayak gini bikin kita hidup tanpa arah. Gue pernah ngalamin masa di mana duit proyek gede habis dalam dua minggu karena gue pikir "ah nanti juga ada proyek lagi". Ternyata proyek berikutnya baru dateng dua bulan kemudian. Hahaha. Nggak lucu sebenernya.
Faktanya, justru karena penghasilan nggak tetap, kamu wajib punya anggaran. Bedanya, anggaran freelancer bukan angka mati per bulan. Kamu bisa pakai pendekatan anggaran berbasis prioritas. Tentukan dulu pos-pos yang wajib: sewa, makan, transport, internet, asuransi. Sisanya baru dialokasikan ke hal lain. Kalau bulan ini penghasilan cuma 5 juta, ya hidup dengan standar 5 juta. Kalau bulan depan 15 juta, jangan langsung naikin gaya hidup — simpan selisihnya buat bulan-bulan kering.
Penghasilan nggak tetap bukan alasan buat nggak punya rencana. Justru itu alasan paling kuat buat punya rencana.
Mitos 2: "Freelancer Nggak Perlu Dana Darurat, Kan Bisa Kerja Kapan Aja"
Wah, ini nih yang bahaya. Banyak yang mikir karena freelancer bisa kerja dari mana aja dan kapan aja, jadi nggak perlu dana darurat. Sakit? Masih bisa kerja dari kasur. Proyek sepi? Tinggal cari klien baru.
Kenyataannya, freelancer justru lebih rentan secara finansial dibanding karyawan tetap. Nggak ada gaji bulanan yang otomatis masuk. Nggak ada BPJS dari kantor. Nggak ada uang pesangon kalau tiba-tiba proyek berhenti. Kalau kamu sakit dan nggak bisa kerja, ya penghasilan bener-bener nol.
Gue belajar ini dengan cara yang cukup menyakitkan. Dua tahun lalu gue kena tipes dan nggak bisa kerja hampir tiga minggu. Nggak ada pemasukan, tapi pengeluaran jalan terus. Sejak itu gue mulai sisihin minimal 10% dari setiap pembayaran proyek ke rekening terpisah yang cuma boleh disentuh kalau benar-benar darurat.
Idealnya, freelancer punya dana darurat minimal 6-12 bulan pengeluaran. Kedengeran banyak? Iya. Tapi inget, kamu nggak punya jaring pengaman dari perusahaan. Kamu adalah perusahaannya sendiri.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Yuk, ikuti alurnya dan temukan bagian yang paling kamu sukai!
Mitos 3: "Semua Penghasilan Freelance Itu Uang Pribadi"
Ini mitos yang sering nggak disadari. Banyak freelancer — termasuk gue dulu — nganggap semua duit yang masuk dari klien itu ya duit pribadi. Bisa dipakai buat apa aja. Beli gadget baru, liburan, traktir temen.
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
Padahal, ada komponen biaya yang sering dilupakan. Internet, listrik, laptop, software berbayar, kursus online, bahkan kopi di kafe yang kamu pakai buat kerja — itu semua biaya operasional. Kalau kamu nggak misahin, kamu bakal merasa penghasilan kamu lebih besar dari yang sebenarnya.
Cara Simpel Misahin "Gaji" dan "Biaya Usaha"
Yang gue lakuin sekarang: setiap pembayaran masuk, langsung potong 20-30% buat pos "biaya usaha" dan "pajak". Sisanya baru dianggap sebagai penghasilan pribadi. Jadi kalau klien bayar 10 juta, gue cuma nganggap 7 juta sebagai "gaji" gue. Tiga juta sisanya masuk ke rekening terpisah buat beli pulsa, bayar langganan software, servis laptop, dan nyisihin buat pajak.
Denger-denger sih ada freelancer yang penghasilannya 20 juta sebulan tapi selalu merasa bokek. Ya gimana nggak, semua dianggap uang jajan.
Mitos 4: "Yang Penting Rajin Nabung, Nggak Perlu Catat Pengeluaran"
Nabung itu bagus. Tapi kalau kamu nggak tahu ke mana perginya uang kamu, nabung aja nggak cukup. Ini kayak ngepel lantai sambil keran air masih nyala.
Gue pernah di fase di mana gue rajin banget nabung 20% dari setiap proyek. Tapi setelah tiga bulan, tabungan gue nggak nambah banyak. Ternyata karena pengeluaran kecil-kecil yang nggak tercatat — jajan online, langganan yang lupa di-cancel, top-up game — jumlahnya lumayan besar. Kalau digabung, bisa hampir 2 juta sebulan.
Sejak itu gue mulai catat semua pengeluaran. Nggak perlu yang ribet pakai aplikasi mahal. Gue cuma pakai Google Sheets sederhana. Yang penting konsisten. Dengan nyatet, gue jadi sadar pola pengeluaran gue. Ternyata gue paling boros di hari-hari deadline — karena stres, gue cenderung pesan makanan mahal.
Kesadaran itu yang akhirnya bikin gue bisa motong pengeluaran yang nggak perlu. Bukan karena gue pelit, tapi karena gue tahu mana yang bener-bener penting.
Mitos 5: "Freelancer Nggak Bisa Punya Tujuan Keuangan Jangka Panjang"
Ini mitos yang paling sering bikin freelancer menyerah sebelum mulai. Karena penghasilan nggak pasti, katanya nggak mungkin punya tujuan jangka panjang kayak beli rumah, dana pendidikan anak, atau pensiun.
Padahal, justru karena nggak ada yang ngatur keuangan kamu selain diri sendiri, kamu harus punya tujuan jangka panjang. Tanpa itu, kamu bakal terus kerja tanpa arah dan tanpa keamanan finansial.
Caranya? Mulai dari yang kecil. Misalnya, targetin punya tabungan 50 juta dalam dua tahun. Dari target itu, kamu bisa hitung berapa yang perlu disisihin per bulan. Kalau bulan ini penghasilan kurang, kamu bisa cari proyek tambahan atau potong pengeluaran. Yang penting targetnya jelas.
Gue sendiri punya target beli rumah dalam lima tahun. Kedengeran jauh? Iya. Tapi dengan nyisihin konsisten dan investasi di instrumen yang aman, gue udah setengah jalan. Kuncinya bukan penghasilan besar, tapi konsistensi dan disiplin.
Jadi, Harus Gimana Dong?
Intinya, jangan percaya mitos-mitos di atas. Freelancer itu punya tantangan finansial yang unik, tapi bukan berarti nggak bisa diatur. Justru karena tantangannya unik, kita butuh strategi yang juga disesuaikan.
Mulai dari yang paling simpel: pisahin rekening pribadi dan rekening usaha (walaupun usaha kamu cuma kamu sendiri). Catat pengeluaran, minimal seminggu sekali. Bikin dana darurat, walaupun awalnya cuma 500 ribu. Dan yang paling penting, jangan bandingin keuangan kamu dengan karyawan tetap yang punya gaji pasti. Jalur kamu beda, jadi cara mainnya juga beda.
Kalau kamu masih percaya salah satu mitos di atas, nggak apa-apa. Gue juga dulu gitu. Yang penting sekarang kamu tahu faktanya, dan bisa mulai benerin satu per satu. Pelan-pelan aja, yang penting jalan terus.